Menjadi Generasi Bernilai di Tengah Krisis Integritas

 

Saya percaya, perubahan besar bangsa ini tidak selalu dimulai dari gedung-gedung megah atau ruang sidang yang penuh kekuasaan. Perubahan justru dapat lahir dari ruang kelas sederhana, ketika seorang guru dan murid bersama-sama bersepakat untuk menjaga integritas. 

[Jombang, Pak Guru NINE] - Tahun pelajaran 2026/2027 menjadi awal amanah baru bagi saya sebagai wali kelas XII-9 di SMAN 2 Jombang. Sebagai guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, saya tidak hanya bertugas mengajar materi pelajaran, tetapi juga mendampingi murid-murid dalam proses pembentukan karakter. Pada pekan pertama pembelajaran, sekolah memberikan amanah kepada saya untuk menyosialisasikan tata tertib sekolah sekaligus menyampaikan literasi antikorupsi kepada seluruh murid di kelas tersebut.

Sekilas tugas itu tampak sederhana. Namun, di baliknya tersimpan dilema yang cukup menggelitik pikiran saya. Bagaimana mungkin saya berbicara tentang integritas dan antikorupsi ketika hampir setiap hari murid-murid membaca berita mengenai berbagai kasus korupsi yang melibatkan pejabat publik, kepala daerah, politisi, bahkan oknum aparat penegak hukum? Mereka hidup di tengah banjir informasi yang mempertontonkan ironi: orang-orang yang seharusnya menjaga hukum justru tersandung pelanggaran hukum.

Saya sadar, jika saya hanya menyampaikan materi secara normatif, kemungkinan besar pesan itu akan terdengar seperti slogan kosong. Murid-murid hari ini adalah generasi yang kritis. Mereka tidak hanya mendengar, tetapi juga mengamati, membandingkan, bahkan mempertanyakan. Karena itulah saya memilih pendekatan yang lebih dialogis, empatik, dan mengajak mereka berpikir bersama, bukan sekadar mendengarkan ceramah.

Saya memulai pertemuan dengan mengingatkan kembali sebuah momen yang mungkin sudah mereka lupakan. Saat melakukan daftar ulang sebagai murid baru di SMAN 2 Jombang, mereka pernah menandatangani surat pernyataan kesanggupan menaati seluruh tata tertib sekolah beserta segala konsekuensi apabila melanggarnya. Saya menjelaskan bahwa konsekuensi paling berat adalah dikembalikannya pendidikan mereka kepada orang tua atau wali untuk dilanjutkan di sekolah lain. Namun saya juga menegaskan bahwa sekolah bukanlah institusi yang gemar menghukum. Selama masih berada dalam koridor pendidikan, setiap pelanggaran selalu diupayakan menjadi ruang pembinaan, bukan sekadar pemberian sanksi.

Setelah membagikan dokumen tata tertib agar mereka membacanya sendiri, saya memberikan satu pesan yang sangat praktis. Saya mengatakan bahwa jika suatu hari mereka terlambat berangkat dan memperkirakan akan datang melewati batas waktu, tetaplah masuk sekolah. Jangan memaksakan diri mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi hanya agar lolos dari gerbang yang hampir ditutup. Keselamatan jauh lebih berharga daripada sekadar menghindari hukuman. Lebih baik menerima konsekuensi dengan lapang dada, kemudian berkomitmen memperbaiki kedisiplinan pada hari-hari berikutnya.

Suasana kelas kemudian saya cairkan dengan sedikit humor.

"Sebagai anak muda," kata saya sambil tersenyum, "bagi Bapak wajar kalau kalian sedikit-sedikit agak bandel. Wajar saja. Tapi ingat, sedikit saja."

Sontak seluruh kelas tertawa.

Kalimat itu bukanlah pembenaran terhadap kenakalan remaja. Sebaliknya, saya ingin menunjukkan bahwa proses menjadi dewasa memang tidak selalu berjalan sempurna. Kesalahan bisa saja terjadi. Namun, ketika guru mengingatkan, orang tua menasihati, dan hati masih mau menerima kebenaran, maka seseorang akan kembali ke jalan yang benar. Justru pengalaman pernah tergelincir itulah yang sering kali membuat seseorang lebih bijaksana dalam melangkah.

Saya kemudian mengajak mereka melihat realitas kehidupan. Dunia tidak selalu dipenuhi oleh orang-orang baik. Akan selalu ada contoh buruk yang kita lihat setiap hari. Akan selalu ada berita yang mengecewakan. Tetapi buruknya lingkungan tidak boleh menjadi alasan untuk ikut menjadi buruk. Allah Swt. mencintai hamba-hamba-Nya yang mau bertobat, memperbaiki diri, dan terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.

Selanjutnya saya menyampaikan pesan yang menurut saya jauh lebih penting daripada sekadar menaati tata tertib sekolah.

"Jadilah pribadi yang bernilai," kata saya. "Jadilah seperti emas atau permata. Di mana pun berada dan dalam keadaan apa pun, nilainya tidak pernah hilang."

Untuk memperjelas makna itu, saya mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu rupiah dari dompet. Saya mengangkatnya tinggi-tinggi.

"Kalau uang ini Bapak berikan kepada kalian, siapa yang mau menerimanya?"

Serentak mereka menjawab, "Saya, Pak!"

Kemudian uang itu saya remas hingga kusut.

"Kalau sekarang?"

"Masih mau, Pak."

Saya lempar uang itu ke lantai. Saya injak beberapa kali hingga semakin lecek.

"Kalau sekarang?"

Jawabannya tetap sama.

Terakhir saya bertanya, "Kalau uang ini Bapak lempar ke selokan sampai basah dan kotor, apakah kalian masih mau mengambilnya?"

Seorang murid menjawab spontan, "Saya ambil, saya cuci, lalu saya setrika, Pak."

Seluruh kelas pun tertawa.

Saya kembali bertanya, "Mengapa kalian masih menginginkannya?"

Mereka menjawab hampir bersamaan, "Karena nilainya, Pak. Tetap berharga."

Saya mengangguk sambil berkata, "Nak, jadilah pribadi seperti uang itu. Keadaan boleh saja tidak selalu ideal. Hidup mungkin akan menguji kalian dengan berbagai kesulitan. Tetapi selama kalian menjaga nilai diri, menjaga kejujuran, menjaga integritas, kalian akan tetap dihargai, dipercaya, dan dibutuhkan di mana pun berada."

Dari ilustrasi sederhana itulah saya kemudian mengawali pembahasan mengenai literasi antikorupsi.

"Saya tahu kalian mengikuti berita akhir-akhir ini," ujar saya. "Sangat wajar jika kalian merasa muak, sinis, bahkan tertawa ironis ketika hari ini kita membahas antikorupsi, sementara di luar sana ada oknum pejabat yang justru mempertontonkan perilaku sebaliknya. Namun pertanyaan pentingnya bukanlah mengapa mereka melakukan itu. Pertanyaannya adalah, apakah kita akan menyerah lalu membiarkan masa depan negeri ini diwariskan kepada mentalitas seperti itu? Ataukah justru kita menjadikan semua peristiwa tersebut sebagai alasan kuat bahwa generasi kalianlah yang harus memperbaiki keadaan?"

Saya menegaskan bahwa kelas kami hari itu bukanlah ruang untuk menghakimi masa lalu orang lain, melainkan ruang untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Bangsa ini tidak akan berubah hanya dengan kemarahan atau hujatan di media sosial. Perubahan hanya akan lahir ketika semakin banyak anak muda yang memilih hidup jujur, meskipun lingkungan di sekitarnya tidak selalu memberi teladan.

Sebagai guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, saya kemudian mengajak mereka melihat persoalan ini dari sudut pandang keimanan. Korupsi dalam jumlah miliaran rupiah tidak pernah lahir dalam satu malam. Kejahatan sebesar itu selalu diawali oleh hilangnya satu nilai yang sangat mendasar, yaitu muraqabah—kesadaran bahwa Allah Swt. senantiasa mengawasi setiap perbuatan manusia. Hukum dunia mungkin masih bisa diakali dengan kekuasaan, jabatan, bahkan uang. Namun tidak ada satu pun manusia yang dapat menyuap pengadilan Allah di akhirat kelak.

Karena itu saya mengajak mereka bercermin. Jika hari ini seseorang masih merasa biasa menyontek ketika guru lengah, memanipulasi absensi, memotong antrean, atau mengambil sesuatu yang bukan haknya hanya karena tidak ada CCTV, sesungguhnya ia sedang menanam benih karakter yang sama dengan para koruptor. Perbedaannya hanyalah pada kesempatan dan besar kecilnya nominal.

Pada akhirnya saya menutup pertemuan hari itu dengan sebuah keyakinan sederhana. Sangat mudah menghujat koruptor yang merampas uang rakyat. Namun jauh lebih penting adalah memastikan bahwa kita sendiri tidak sedang memelihara bibit-bibit korupsi dalam kehidupan sehari-hari. Sebab korupsi sejatinya bukan hanya soal besarnya uang yang dicuri, melainkan tentang hilangnya kejujuran dan keberanian menjaga amanah.

Saya percaya, perubahan besar bangsa ini tidak selalu dimulai dari gedung-gedung megah atau ruang sidang yang penuh kekuasaan. Perubahan justru dapat lahir dari ruang kelas sederhana, ketika seorang guru dan murid bersama-sama bersepakat untuk menjaga integritas. Sebab dari ruang kelas itulah, mudah-mudahan lahir generasi emas yang kelak bukan hanya cerdas dalam berpikir, tetapi juga jujur dalam bertindak, berani menjaga amanah, dan tetap bernilai dalam keadaan apa pun.[pgn]

Nine Adien Maulana, Guru PAIBP Wali Kelas XII-9 SMAN 2 Jombang

Posting Komentar

0 Komentar