Mengetuk Pintu Langit, Menyentuh Hati Negeri

 

"Munajat Sukses Studi dan Peduli Negeri" ini bukan sekadar obrolan daring biasa; ia adalah sebuah manifestasi dari kegelisahan pendidikan yang mencoba menemukan kembali ruhnya.

[Jombang, Pak Guru NINE] - Pernahkah Anda merasakan sebuah ironi di dunia pendidikan kita? Di satu sisi, kita memacu siswa untuk menjadi "pemenang" dalam kompetisi nilai yang sengit. Namun di sisi lain, kita sering lupa membekali mereka dengan kompas moral yang disebut empati. Fenomena inilah yang dibedah dengan sangat apik dalam Talk Show Virtual OASE (Obrolan Asyik Seputar Empati) edisi Minggu, 25 Januari 2026. Dipandu oleh Pak Guru Nine, diskusi bertajuk "Munajat Sukses Studi dan Peduli Negeri" ini bukan sekadar obrolan daring biasa; ia adalah sebuah manifestasi dari kegelisahan pendidikan yang mencoba menemukan kembali ruhnya.

Hadirnya dua tokoh kunci, Mokh. Fakhruddin Siswo Pranoto, M.Pd.I. Ph.D (Ketua MGMP PAI SMAN Jombang) dan Asshodiqul Amin, S.Pd.I (Ketua Panitia Langitkan Doa Bersama 2026), memberikan perspektif yang sangat logis sekaligus menyentuh tentang mengapa ribuan pelajar kelas XII di Jombang harus bersimpuh bersama di Masjid Agung Baitul Mukminin.

Sinergi Intelektual dan Spiritual

Argumen mendasar yang muncul dalam diskusi tersebut adalah bahwa kecerdasan intelektual tanpa kecerdasan spiritual ibarat kapal besar tanpa jangkar. Kyai Fakhruddin menekankan bahwa belajar di kelas memang kewajiban, namun doa adalah bentuk pengakuan akan keterbatasan manusia. Secara logis, psikologi pendidikan mencatat bahwa ketenangan jiwa (yang didapat dari spiritualitas) merupakan katalisator utama bagi otak untuk bekerja secara optimal. Saat siswa merasa "terhubung" dengan Sang Pencipta, kecemasan terhadap ujian akhir bertransformasi menjadi energi positif yang lebih stabil.

Namun, poin yang paling menarik dari OASE malam itu bukan hanya soal cara meraih nilai tinggi di ijazah melalui "jalur langit". Diskusi ini bergeser ke arah yang lebih dalam: hubungan antara keberkahan ilmu dan empati sosial.

Ilmu yang Bercahaya adalah Ilmu yang Berempati

Ada satu pertanyaan krusial yang dilemparkan Pak Guru Nine: Mengapa di saat siswa sedang butuh doa untuk diri sendiri, mereka justru diajak mendoakan keselamatan negeri yang sedang dilanda bencana?

Di sinilah letak argumentasi logis yang mencerahkan. Kyai Fakhruddin menjelaskan bahwa "keberkahan ilmu" tidak datang dari seberapa egois kita mengejar kesuksesan pribadi. Keberkahan lahir saat kita menyadari bahwa kita adalah bagian dari ekosistem kemanusiaan yang lebih besar. Ketika seorang pelajar mendoakan orang lain yang sedang tertimpa musibah, secara tidak sadar ia sedang melatih otot empatinya.

Secara psikologis, tindakan ini memperluas kapasitas mental mereka. Pelajar yang memiliki empati tinggi cenderung memiliki soft skills yang lebih baik, lebih tangguh menghadapi tekanan, dan lebih bijak dalam mengambil keputusan. Dengan kata lain, mendoakan negeri bukan hanya aksi spiritual, melainkan latihan kepemimpinan masa depan. Mereka tidak hanya belajar menjadi "orang pintar", tapi belajar menjadi "orang peduli".

Atmosfer yang Menggetarkan

Mas Amin, sebagai sosok di balik layar acara "Langitkan Doa Bersama", menceritakan bagaimana getaran frekuensi ribuan siswa yang bersimpuh bareng mampu menciptakan atmosfer yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Mengoordinasikan ribuan pelajar SMA/MA se-Kabupaten Jombang bukanlah perkara teknis semata, melainkan soal menyatukan hati.

Tantangan terbesarnya adalah meyakinkan para remaja ini bahwa ada kekuatan di balik tangan yang tengadah. Saat melihat teman sebaya menangis dalam doa dan tulus mendoakan saudara-saudara mereka yang terkena musibah di pelosok negeri, kita sadar bahwa generasi ini memiliki cadangan empati yang luar biasa—mereka hanya butuh wadah untuk menyalurkannya.

Sukses yang Berakar pada Kemanusiaan

Sebagai penutup, esensi dari diskusi OASE ini membawa kita pada sebuah simpulan bermakna: hidup ini bukanlah tentang siapa yang paling cepat sampai di puncak, melainkan tentang siapa yang paling banyak menebar manfaat di sepanjang perjalanan.

Narasi yang dibangun Pak Guru Nine di akhir acara menjadi pengingat yang kuat. Jika kita memudahkan urusan orang lain melalui doa dan kepedulian, maka Tuhan akan memudahkan jalan-jalan sulit di depan mata kita. Ini adalah hukum alam yang logis sekaligus spiritual. Kesuksesan seorang pelajar tidak akan berkurang hanya karena ia meluangkan waktu sejenak untuk berempati pada bangsanya. Justru, kesuksesan itu akan tumbuh mengakar kuat karena dibangun di atas fondasi kemanusiaan yang kokoh.

Mari kita pahami kembali bahwa ijazah hanyalah lembaran kertas. Namun, karakter yang dibangun melalui perpaduan antara kerja keras (studi), penyerahan diri (munajat), dan kepedulian (empati) adalah warisan abadi yang akan menjaga Indonesia tetap tegak berdiri.[pgn]

Posting Komentar

0 Komentar