![]() |
| AI mungkin bisa membantu pendidikan, tetapi ia tidak bisa menggantikan guru—selama guru sadar bahwa perannya bukan hanya mengajar, tetapi membimbing jiwa. |
[Jombang, Pak Guru NINE] - Setelah selesai berbagi praktik baik
tentang pemanfaatan kecerdasan buatan di forum MGMP Pendidikan Agama Islam
Kabupaten Jombang pada 18 November 2025 di SMAN Kabuh, saya pulang dengan
pikiran yang terus bergulir. Di satu sisi, saya melihat betapa AI sangat
membantu pekerjaan guru. Dari pembuatan perangkat ajar, analisis penilaian,
hingga merangkum materi, semuanya kini bisa dikerjakan dalam hitungan detik.
Namun di sisi lain, ada keresahan yang pelan-pelan mengetuk: Jika AI bisa
melakukan semua itu, apakah peran guru akan melemah?
Pertanyaan itu wajar muncul. Banyak
orang khawatir guru akan digantikan mesin. Tetapi setelah saya merenung lebih
dalam, saya justru semakin yakin: guru tidak akan pernah tergantikan—selama
guru tidak melepaskan keistimewaan yang membuatnya manusia. AI boleh menang
dalam kecepatan dan data. Tapi guru unggul dalam hal yang jauh lebih berharga:
hati, empati, teladan, dan kebijaksanaan.
Dalam konteks Pendidikan Agama Islam,
batasnya bahkan lebih jelas. AI bisa menjelaskan syarat sah shalat, tetapi ia
tidak mampu merasakan ketenangan yang muncul ketika seseorang benar-benar
berserah diri di hadapan Allah. AI bisa merangkai kata-kata nasihat, tetapi ia
tidak bisa memejamkan mata sambil mendoakan seseorang dari relung hati
terdalam. AI tidak punya ruh, rasa, maupun kesadaran. Maka yang terpenting
bukanlah takut pada AI, tetapi memastikan bahwa guru tidak kehilangan sisi
manusiawinya.
Baca juga!
Ketika
AI Menjadi Sahabat Guru PAI
Pertama, guru harus
fokus pada transfer nilai, bukan sekadar transfer ilmu. Dunia modern sering
keliru menganggap bahwa tugas guru hanyalah mentransfer informasi. Padahal
informasi kini bertebaran di mana-mana. Bahkan AI bisa menjawab lebih cepat
dari kita. Tapi apakah AI bisa menunjukkan bagaimana sabar itu dipraktikkan?
Apakah AI bisa mencontohkan bagaimana seorang Muslim menjaga lisan, memuliakan
tamu, atau menolak godaan emosi? Tidak. Karena adab dan akhlak bukan sekadar
teori; ia harus dicontohkan. Murid SMA tidak hanya membutuhkan penjelasan;
mereka membutuhkan figur. Cara guru tersenyum ketika masuk kelas, cara menegur
tanpa merendahkan, cara menahan emosi ketika kelas mulai gaduh—semua itu adalah
pembelajaran hidup yang tak dapat diberikan mesin.
Kedua, pertemuan
tatap muka tetap menjadi jantung pendidikan agama. Dalam tradisi Islam,
sanad ilmu lahir dari hubungan guru dan murid yang otentik. Ketika siswa
membaca Al-Qur’an, bukan hanya suara yang didengar, tetapi juga niat,
kekhusyukan, dan kesungguhan. AI belum mampu mendeteksi kualitas hati. Bahkan
dalam hal teknis seperti makhraj dan tajwid, telinga guru yang terlatih jauh
lebih peka. Guru juga berperan sebagai penjaga akidah dan wasathiyah siswa. AI
tidak bisa memilah apakah pemahaman siswa mengarah pada moderasi atau justru
terpengaruh ide ekstrem yang mereka temukan online. Dalam hal ini, peran guru
adalah filter yang wajib hadir.
Ketiga, guru harus
merangkul konteks dan kearifan lokal. AI memang pintar, tetapi ia tidak
tumbuh di kontek sosio kultur Jombang. Ia tidak tahu suasana
Alun-Alun Jombang saat malam minggu, bagaimana pergaulan siswa di kantin, atau
bagaimana uniknya kultur santri di kota ini. Guru PAI jauh lebih mampu
mengaitkan nilai agama dengan kehidupan nyata siswa. Ketika guru masuk kelas,
ia bisa langsung merasakan apakah siswa sedang semangat, jenuh, atau memendam
beban pikiran. Dari situ guru bisa mengubah pendekatan, memberikan jeda dengan
humor, atau membuka dialog ringan. Ini adalah kepekaan yang AI tidak punya.
Pendidikan bukan sekadar menyampaikan materi, tapi membaca suasana hati
manusia.
Keempat, guru harus
mengasah keterampilan humanis atau “human touch.” Generasi sekarang
tumbuh dalam tekanan digital yang kuat. Banyak dari mereka rentan secara
emosional. Dalam situasi seperti ini, guru adalah tempat yang aman bagi mereka
untuk pulang. Guru PAI memiliki peran sebagai konselor spiritual—mendengarkan
tanpa menghakimi, memberikan ketenangan melalui nasihat yang lembut, serta
membimbing dengan nilai-nilai Islam. AI mungkin bisa membuat teks motivasi,
tetapi motivasi yang paling menyentuh tetaplah yang diucapkan oleh manusia
dengan tatapan yang tulus.
Begitu pula dalam diskusi kelas. AI
bisa menyuplai data, tetapi guru lah yang membangun suasana dialog, memantik
pemikiran kritis, dan menuntun siswa mencapai kedewasaan intelektual dan moral.
Di titik ini, AI hanyalah alat, sedangkan guru adalah pengarah kapal.
Kelima, AI harus
dijadikan batu loncatan, bukan tujuan. Guru tidak perlu berlomba dengan AI
dalam hal yang memang dimenangkan AI. Yang perlu dilakukan adalah memahami cara
kerjanya, memanfaatkannya untuk efisiensi, lalu mengalihkan energi lebih besar
untuk menguatkan nilai-nilai kemanusiaan. Guru yang melek AI akan mampu
mengajarkan siswa etika digital, adab menggunakan teknologi, serta panduan
moral dalam dunia maya.
Pada akhirnya, kekuatan guru tidak
terletak pada banyaknya data yang ia hafal, tetapi pada kedalaman hatinya dalam
membentuk karakter murid. Teknologi berkembang cepat, tetapi manusia tumbuh
melalui hubungan, teladan, dan sentuhan batin. AI mungkin bisa membantu
pendidikan, tetapi ia tidak bisa menggantikan guru—selama guru sadar bahwa
perannya bukan hanya mengajar, tetapi membimbing jiwa. Dengan
memanfaatkan AI secara bijak, guru justru bisa semakin kuat, semakin relevan,
dan semakin dibutuhkan. Karena pada akhirnya, di balik setiap murid yang tumbuh
menjadi pribadi baik, selalu ada sosok guru yang hadir dengan hati.[pgn]
Nine Adien Maulana, GPAI SMAN 2
Jombang
.jpg)
0 Komentar